MEDAN - SUMUT
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Media Independen Online (MIO) Indonesia Sumatera Utara, Fajar Trihatya, SE, mengajak seluruh insan media untuk memperkuat komitmen menjaga kebenaran informasi di tengah derasnya arus digital.
Menurut Fajar, kemerdekaan bangsa tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan fisik, tetapi juga harus diwujudkan melalui upaya mempertahankan kedaulatan informasi dari ancaman hoaks, disinformasi, propaganda, ujaran kebencian, serta manipulasi opini yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikannya pada Selasa (4/8/2026) di Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Pangeran Diponegoro, Medan. Ia menegaskan bahwa media online memiliki tanggung jawab strategis sebagai benteng persatuan bangsa melalui pemberitaan yang akurat, berimbang, terverifikasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Di usia ke-81 Republik Indonesia, kemerdekaan tidak cukup hanya diperingati, tetapi harus dijaga. Salah satunya melalui kemerdekaan pers yang bertanggung jawab. Media online tidak boleh menjadi alat penyebar kebencian ataupun corong kepentingan yang mengorbankan persatuan bangsa. Media harus menjadi pencerah masyarakat, pengawal demokrasi, sekaligus penjaga akal sehat publik, "ujar Fajar.
Ia menilai perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah jurnalisme secara signifikan. Persaingan yang semakin ketat, kata dia, sering kali mendorong sebagian media lebih mengutamakan kecepatan, klik, dan trafik dibandingkan proses verifikasi. Kondisi tersebut berisiko menurunkan kualitas pemberitaan sekaligus mengikis kepercayaan publik terhadap pers.
Karena itu, Fajar mengajak seluruh insan pers, khususnya yang tergabung dalam MIO Indonesia, untuk terus meningkatkan profesionalisme, kompetensi, dan integritas dengan tetap menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik. Menurutnya, pers yang independen dan bertanggung jawab merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga demokrasi yang sehat.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan perjuangan bangsa saat ini telah berubah bentuk. Jika para pahlawan dahulu berjuang melawan penjajahan dengan mempertaruhkan jiwa dan raga, maka insan media masa kini dituntut mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan informasi yang dapat merusak persatuan nasional.
"Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Mari jadikan media online sebagai rumah kebenaran, pengawal demokrasi, dan penjaga persatuan Indonesia. Merdeka bukan hanya bebas berbicara, tetapi juga bertanggung jawab atas setiap informasi yang disampaikan kepada publik. Sebab, ketika kebenaran dijaga, Indonesia akan tetap berdiri kokoh sebagai bangsa yang bersatu, berdaulat, dan bermartabat, "pungkas Fajar Trihatya.**krN/Syahdan